Rabu, 12 Juni 2013

Antara Syariat, Thariqat, dan Hakikat

Syari’at, thariqat dan hakikat itu tidak bisa di pisah-pisahkan. Berthariqat meninggalkan syri’at, tidak benar. Karena, thariqat adalah buah syari’at. Jadi, kalau mau berthariqat, harus melalui tahapan syari’at, berthariqat tidak terlepas dari bersyari’at, keduanya berkesinambungan. Syari’at yang mengatur kehidupan kita, dengan menggunakan hukum, dari mulai akidah, keimanan, keislaman, sehingga kita beriman kepada Allah, malaikat, Kitab Allah, Rasul, hari akhir dan takdir baik dan buruk. Dari syari’at pula kita mengetahui rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Serta keutama’an shalat, juga hubungan antar manusia, seperti jual beli, pernikahan, dan lain-lain.

Setelah menjalankan syari’at dengan baik, kita berthareqat, untuk menuju jalan kepada Allah dengan baik. Jadi, secara sederhana menuju jalan kepada Allah disebut thariqat. Berthariqat perlu dibimbing para mursyid, yang akan mengantar murid dari mengerti dan mengenal Allah sampai nanti “dikenal” Allah SWT, yakni dekat dan disayang oleh Dia SWT. Yang mana amalan utama dalam thariqat adalah berdzikir. Hanya, perlu dipahami, pengertian thariqat tidak terbatas hal itu. Yang dituntut oleh thariqat di jalan Allah adalah perilaku para pengikut thariqat yang mulia. Terutama membersihkan kotoran-kotoran yang ada, baik kotoran lahir maupun bathin, sehingga secara lahir dan bahtin kita bersih di dalam menuju ke jalan Allah.

Sebagai contoh: “berwudlu”. Wudlu adalah peraturan syari’at, guna menjalankan shalat dan lain-lainya. Biasanya kita hanya berwudlu untuk mendapatkan keutama’an wudlu itu sendiri, serta sebagai persyaratan untuk menjalankan shalat. Sedangkan thariqat menuntut buah dari wudlu. Berapa kali kita membasuh muka ketika berwudlu, dan berapa kali kita membasuh tangan setiap hari untuk menjalankan ibadah. Coba itu kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita, sosialisasikan untuk kehidupan kita masing-masing. Kalau sudah sering membersihkan muka, kita harus lebih mengerti serta merendahkan hati, malu kalau kita berlaku sombong.

Nah dari hasil wudlu, kita cari buahnya yaitu lebih berakhlaq, lebih rendah hati, lebih beradab, sehingga ada peningkatan dari hari ke hari. Itulah buahnya, sehingga kita semakin dekat kepada Allah. Sebab, justru di hadapan Allah, kita semakin menundukkan kepala. Karena semua itu adalah pemberian-Nya semata. Kalau bukan karena pemberian-Nya, bagaimana bisa mengerti segala yang kita miliki ini.

Begitu juga, kita pun diberi pemahaman oleh Allah terhadap junjungan kita Nabi Muhammad SAW atas limpahan rahmat kepadanya, sehingga kita menjadi pengikutnya yang setia. Untuk itulah kita selalu memuji Rasulullah SAW dengan tujuan supaya kita lebih dekat kepada Rasulullah SAW. Dengan begitu, sosok Rasulullah akan menjadi idola bagi kita dalam menapaki kehidupan hingga akhir hayat.

Berthariqat akan memupuk sikap rendah hati kita kepada para wali Allah, ulama dan guru-guru kita yang telah memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran syari’at dan thariqat. Itu baru dari segi membersihkan muka secara lahiriah dan bathiniah. Begitu pula kalau kita selalu membasuh kedua tangan, lahiriah maupun bathiniah, hal itu akan mencegah tangan kita dari berbuat maksiat. Kita akan selalu diperingatkan untuk tidak mengambil yang bukan hak kita, apalagi melakukan korupsi, misalnya, yang sangat merugikan rakyat. Sebab tangan kita sudah disucikan setiap hari. Kalau kita bisa mempelajari banyak hal dari wudlu saja, insya Allah, masalah korupsi itu bisa terberantas. Lalu telinga kita yang digunakan untuk mendengarkan sesuatu yang baik. Kita tentunya tidak akan menyampaikan apa yang kita dengar kalau informasi itu justru memancing masalah atau memanaskan situasi, apalagi menimbulkan perpecahan dan kekacauan. Tentu saja, hal itu berlaku pula bagi mata kita, kedua kaki kita, dan anggota badan lainya. Itulah hasil karya, hasil didikan, yang mendapatkan bimbingan dari Allah SWT.

Mengapa kita harus berwudlu ketika akan mendirikan shalat? Berwudlu tidak hanya membersihkan kotoran lahiriah kita, tetapi pada hakikatnya juga membersihkan kotoran bathiniah. Al-Qur’an menyebutkan bahwa shalat mencegah dari kemungkaran dan kerusakan, karena kita sudah memahami makna wudlu dan shalat secara thariqat.

Sudahkan wudlu dan shalat kita ini berimplikasi ke "tanha ‘ani al-fahsya’ wa al-munkar"? Wallahu A’lam. Mari kita selalu berupaya.