Jumat, 29 April 2011

Ajaran Ki Ageng Suryamentaram

Melihat berbagai kondisi yang terjadi di negara ini, sangat mengganggu hati kecil saya. Bagaimana tidak, disaat rakyat di negara ini sedang mengalami berbagai macam persoalan hidup, ada segelintir orang yang mengatasnamakan "wakil rakyat" tengah memperdebatkan sebuah gedung baru yang megah dengan berbagai macam fasilitas yang sebenarnya tidak lumrah untuk sebuah tempat kerja, sebuah gedung yang sebenarnya tidak diperlukan mengingat masih megahnya gedung yang lama.

Hal inilah yang mendorong saya untuk menulis tentang kesederhanaan, tulisan yang mengacu ajaran kezuhudan dari Ki Ageng Suryamentaram. Dalam ajarannya, Ki Ageng Suryamentaram memberikan wejangan "manungsa iku kudu biso nindakake nem Sa: sabutuhe, saperlune, sacukupe, sakepenake, sabenere, lan samesthine".

Sabutuhe, mengajarkan kita untuk hidup dengan sebutuhnya saja, apabila tidak butuh ya tidak usah ngoyo atau terlalu memaksakan. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan, karena apa yang kita inginkan tidak selalu menjadi apa yang kita butuhkan.

Saperlune, dalam menyikapi berbagai kebutuhan atau keinginan dalam hidup, kita diajarkan untuk hanya mengambil seperlunya saja. Letakkan harta dunia kita ditangan, jangan dihati.

Sacukupe, apabila kita diberi rezeki oleh Gusti Allah, ambillah secukupnya untuk kita gunakan dan sisihkan yang lain untuk menabung ataupun memberikan hak pada fakir miskin. Ingat, diantara sebagian harta kita ada hak orang lain.

Sakepenake, bukan berarti kita hidup harus sesuka hati. Namun, yang dimaksud disini adalah jika kita sudah hidup dengan nyaman, maka tidak perlu kita menambah atau lebih mengada-ada. Intinya adalah hiduplah secara sederhana. Bukankah Allah tidak suka kepada hamba yang hidupnya berlebih-lebihan tetapi tidak bermanfaat?

Sabenere, selalu mengajarkan kita untuk hidup dengan "lurus" dan jujur. Sudah banyak contoh dalam hidup kita dimana terkadang kita tidak mendengarkan apa yang dibisikkan oleh hati nurani. Padahal, hati adalah panglima tertinggi didalam tubuh ini.

Samesthine, mengingatkan kita untuk hidup dengan semestinya. Untuk apa kita hidup dan untuk apa kita diciptakan adalah pertanyaan yang seharusnya bisa mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini.

Terkadang berbagai himpitan dalam hidup selalu mendorong kita berbuat hal yang tidak benar, tidak bisa dipungkiri. Tetapi alangkah indahnya bila kita bisa dan mampu untuk hidup lebih sederhana, merasa lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Gusti Allah kepada kita.